Minggu, 20 Juli 2008

KEHIDUPAN


KEHIDUPAN

Semarang, 13 Juli 2008

Setiap manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok, dan kenapa harus menjalani sebuah kehidupan yang kehidupan itu sangat jauh daria harapannya untuk dapat menagrungi sebuah samudera yang namanya kehidupan. Sudah sifat dasar manusia untuk mencari kebahagiaan dan menghindari penderitaan, tetapi sebagian lupa bahwa kebahagiaan selalu berpasangan dengan penderitaan. Bagi mereka yang telah dapat memeluk erat keduanya, tidak memilih diantara keduanya untuk datang menghampiri, mungkin tidak menjadi soal yang mana yang datang, kebahagiaan atau penderitaan. Tetapi bagi sebagian orang yang antipati terhadap penderitaan, saat penderitaan datang menghampiri, yang muncul hanyalah sebuah keluh kesah, pertanyaan kenapa harus dia yang menjalani dan sampai kapan penderitaan tersebut harus berakhir.

Kehidupan adalah sebuah misteri kalau tidak disebut sebuah teka teki dan kumpulan masalah. Sebuah misteri karena hanya dalam sebuah kejadian dalam kehidupan, banyak pandangan yang mengartikan dan memaknai kejadian tersebut. Disebut teka teki karena esok hari tiada yang pernah tahu apa yang akan terjadi. Disebut kumpulan masalah karena memang kehidupan datang sebagai masalah untuk diselesaikan, mulai dari kehadiran manusia pertama kali ke dunia juga disebabkan sebuah masalah. Pembunhan pertama kali yang terjadi di dunia juga disebabkan karena masalah. Tetapi, apabila mau melihat lebih dalam lagi setiap kejadian yang terjadi, semua adalah sebuah pembelajaran berharga yang tidak pernah didapatkan dari sekolah maupun universitas formal. Semua orang pasti tahu bahwa dalam sebuah sekolah atau universitas formal, materi pembelajaran diberikan terlebih dahulu baru setelah itu diadakan ujian. Berbeda dengan itu, universitas kehidupan akan memberikan sebuah materi pembelajaran setelah ujian diberikan. Pendidikan ala manusia dan pendidikan ala Tuhan memang selamanya tidak akan sama, terlalu jauh apabila harus dibandingkan.

Dulu, pada waktu pengetahuan masih dangkal (bukan berarti pengetahuan yang dimiliki saat ini sudah sedalam samudera), selalu berharap bahwa permasalahan hidup, entah itu yang datang berupa penderitaan, sakit hati atau teman – temannya yang lain datang menghampiri, selalu berharap bahwa semuanya cepat berakhir. Tetapi akhir – akhir ini sadar, bahwa semuanya tidak akan berakhir. Semuanya saling terkait, tidak ada awal, tengah dan akhir. Permasalalahan selalu datang dan pergi, sama seperti penderitaan dan kebahagiaan yang datang silih berganti dalam kehidupan manusia. Setiap akhir sebuah masalah, hal tersebut juga merupakan awal baru sebuah masalah. Hanya setelah nyawa berpisah dengan badan, semua rutinitas kehidupan akan berakhir. Pesan berharga yang dpat diberikan,hidup bukanlah sebuah kompetisi jadi jangan pernah berfikir kalau kamu bersaing dengan orng lain. Hidup adalah sebuah perjalanan bersama – sama menuju akhir yang disebut kematian untuk memperoleh kebahagiaan hakiki dalam kehidupan setelah kematian. Saat kamu merasa bahagia karena kamu merasa telah memenagkan sebuah kompetisi kehidupan, ada orang lain yang saat itu merasakan penderitaan karena kebahagiaanmu. Saat kamu merasa menang, sebenarnya kamu sedang mengalami kekalahan karena orang lain yang telah kamu kalahkan dapat belajar jauh lebih banyak dariapa kamu yang menganggap dirimu menang.

Bagi sebagain orang yang percaya adanya Tuhan Yang Maha Tinggi yang menjadi kreator dibalik kehidupan, percaya bahwa tidak ada satu kejadianpun yang berlalu tanpa izin dari Tuhan. Perbuatan melawan takdir Tuhan hanyalah perbuatan yang sia – sia, terlalu lemah manusia untuk melawan takdir Sang Maha Kuasa dan terlalu kecil dan sedikit ilmu yang dimiliki manusia saat dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki Tuhan, Allah SWT. Entah apa yang akan terjadi esok, yang mereka tahu adalah menjalaninya dengan sebaik - baiknya. Mengeluh tidak ada gunanya dan menghindar adalah sikap seorang pengecut. Hukum Tuhan berkata bahwa setelah penderitaan pasti ada kebahagiaan yang menghampiri. Kalau saat sekarang harus menerima kesusahan dan kesulitan yang itu merupakan takdir Tuhan, kebahagiaan telah menanti dibalik itu semua untuk datang menghampiri. Sebagai manusia, pasti ada rasa capek dan lelah saat penderitaan hidup datang menghampiri sekian lamanya, tetapi dari semua itu manusia sedang di uji untuk mengetahuai seberapa besar kadar kebahagiaan yang nantinya haru diberikan untuk mengganti penderitaan yang menghampirinya.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengemukakan apa yang ada dalam diri dalam mengarungi kehidupan ini. Sebenarnya, diri ini juga tidak jauh berbeda dengan orang – orang kebanyakan yang masih saja sering mengeluh saat penderitaan datang dengan waktu yang dirasa begitu lama. Masih saja kesombongan sering datang dalam diri. Rasa iri apabila melihat kesuksesan orang lain belum dapat hilang sepenuhnya dalam jiwa. Masih jauh diri ini untuk dapat dikatakan baik, apalagi untuk dikatakan sempurna, tetapi diri ini juga sadar untuk menjadi baik diperlukan proses, waktu dan sebuah pembelajaran yang tiada henti. Hidup memang sebuah pembelajaran karena kita semua tidak sempurna.

HIDUP ADALAH SEBUAH PILIHAN


HIDUP ADALAH SEBUAH PILIHAN
Semarang, 21 Mei 2008

Gerbong kehidupan akan tetap melaju melewati rel – rel kehidupan dengan atau tanpa kehadiran kita didalamnya. Pekatnya malam akan digantikan dengan terangnya siang. Pagi hari ini akan segera digantikan pagi esok hari. Kejadian, lika – liku jalan akan mengiringi perjalanan kehidupan lengkap fenomena yang menyertainya. Tangung jawab dan amanah kehidupan akan selalu menanti kita untuk mengembannya. Bersyukur saat salah satu tanggung jawab telah selesai, tetapi tidak terlena karena amanah dan tangung jawab yang lebih besar lagi telah menanti di depan kita. Tidak ada yang namanya puncak masalah dan puncak kehidupan karena selamanya kehidupan akan selalu dihiasi dengan permasalahan – permasalahan sebagai bahan ajaran dari kehidupan dan juga sebagai cobaan terhadap manusia dari Tuhannya. Hanya kematian dan bukan puncak kehidupan sebagai akhir dari kehidupan di dunia dan pintu menuju kehidupan selanjutnya yang lebih kekal dan abadi.

Sadar atau tidak sadar, setuju atau tidak setuju, bukan kehidupan yang membutuhkan kita tetapi kita yang membutuhkan kehidupan. Saat kita hanya bermalas – malasan, berpangku tangan dan tidak peduli dengan laju kehidupan, kehidupan akan tetap berjalan meninggalkan kita. Waktu akan terus berjalan kedepan, hari akan selalu berganti, tanggal dan bulan terus berjalan kedepan dan tahun akan selalu berganti dengan tahun baru. Masa lalu telah berlalu dan masa depan belum juga datang. Tidak ada pilihan lain, yang kita hadapi hanya saat ini dan belum tentu kita akan menghadapi esok hari. Memberikan hal terbaik saat ini merupakan satu-satunya pilihan untuk maju, menjadi lebih baik dan untuk meraih kesuksesan hidup dengan ridho IIahi.

Hari ini adalah hasil dari apa yang kita lakukan kemarin dan esok adalah hasil dari apa yang kita lakukan hari ini. Impian dan harapan tidak semuanya tercapai hari ini tetapi sebuah usaha untuk meraihnya harus kita lakukan hari ini untuk mewujudkan impian dan harapan esok hari. Tidak ada jaminan bahwa semua impian dan harapan kita akan terwujud esok hari, tetapi tetaplah berdoa dan berusaha untuk mewujudkannya karena dengan kita terus berdoa dan berusaha, kita telah berada dalam jalan yang benar untuk mewujudkan impian kita yang lain. Dengan terus berdoa dan berusaha, berarti kita sedang belajar kepada Allah swt tentang pelajaran berharga dari universitas kehidupan karena Allah swt telah menjamin doa hamba-Nya yang dipanjatkan dengan keikhlasan dan ketulusan.

Keletihan dan kelesuhan akan selalu menghampiri kita di setiap langkah untuk mengarungi kehidupan, tetapi apakah kita akan hanyut dalam keletihan dan kelesuhan tersebut adalah sebuah pilihan. Tantangan baru dan permasalahan hidup akan selalu kita hadapi, tetapi mengambil tantangan dan menyelesaikan atau menghindari, mengeluh atau belajar darinya adalah sebuah pilihan. Godaan dan tawaran menggiurkan dalam kehidupan tidak mungkin akan hilang dalam kehidupan, tetapi mempertahankan komitmen atau terhanyut dalam godaan atau tawaran tersebut adalah sebuah pilihan. Setiap hari kita akan selalu bertemu dengan orang yang menawan hati, tetapi tergoda dengannya atau setia terhadap komitmen dan perasaan hati, ikhlas dan bersyukur dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kita adalah sebuah pilihan. Didepan kita pasti ada dua, tiga, empat dan banyak pilihan mulai dari yangbaik samapi yang buruk, mengambil dan memilih yang mana yang akan kita jalani adalah sebuah pilihan kita. Orang lain tidak mempunyai wewenang terhadap diri kita, tetapi menyerahkan kebijakan kehidupan kita kepada orang lain adalah sebuah pilihan.

Salah apabila berfikiran kalau hidup akan berjalan mulus tanpa ada hambatan. Tikungan dan tanjakan terkadang datang menghadang untuk dihadapi. Tetap melewatinya atau menghindarinya adalah sebuah pilihan. Hanya dengan melewatinya kita akan sampai pada tujuan kita. Bukan jalan yang kita lalui yang menjadi penghambat dan memperlambat kita untuk mencapai tujuan, tetapi keinginan kita untuk tetap dan terus berusaha memperbaiki, merawat kendaraan yang kita gunakan untuk mengarungi jalan kehidupan akan menentukan waktu yang kita perlukan untuk sampai pada tujuan kita.

Pada akhirnya, bukan orang lain yang menentukan kualitas kehidupan kita, tetapi kita sendiri yang bertanggung jawab terhadap kehidupan kita. Bukan orang lain yang akan mempertangungjawabkan dihadapan Allah swt bagaimana kita menjalani kehidupan ini, tetapi kitalah yang akan mempertangungjawabkan sendiri apa yang telah kita lakukan dalam hidup ini.

SEKOLAH : PEMBOHONG!!


SEKOLAH : PEMBOHONG!!
Semarang, 17 Mei 2008

Banyak hal memenuhi pikiranku, mulai dari ide, gagasan sampai sebuah analisis pandangan terhadap fenomena kehidupan tetapi semua itu tetap menjadi sebuah ide karena kekuranganku dalam menulis. Begitu banyak sesuatu yang harus aku pelajari, juga karena kekuranganku sehingga semuanya sampai saat ini belum juga terlaksana. Skor TOEFL yang masih kurang, kesombongan dalam diri yang masih bercokol dalam diri tidak mau pergi, pengetahuan yang masih cethek tetapi sudah merasa mengetahui semuanya. Tetapi, banyak juga pelajaran yang diri ini dapat dan alami dalam kehidupanku akhir – akhir ini.

Begitu banyak kejadian dinegeriku, disekelilingku dan yang terjadi dalam kehidupanku. Mulai dari masalah bangsa, masyarakat banyak yang melakukan protes dan penolakan kenaikan BBM. Pemerintah yang akan menjual beberapa BUMN. Pemilihan gubernur jawa tengah yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Pro kontra BLT sebagai kompensasi dari kenaikan harga BBM untuk masyarakat miskin, walaupun program BLT sebelumnya belum dapat dinilai berhasil. Partai politik yang saling pecah dan terpisah-pisah. Terakhir adalah kesuksesan tim uber Indonesia melaju ke final dan kekalahan tim tomas Indonesia melaju ke final.

Prihatin apabila melihat kondisi bangsaku. Menangis sedih apabila melihal permasalahan yang selalu menghimpit bangsaku. Para elit politik seperti hanya ingin meraih kekuasaan tanpa mempedulikan rakyat. Saat membutuhkan rakyat, semuanya beramai – ramai mendatangi rakyat, mencari dukungan, sebagian orang berkata bahwa itu demokrasi. Setelah semuanya mendapatkan keinginan dirinya dari rakyat, sepertinya orang-orang ini mulai meninggalkan dan mencampakkan rakyat. Katanya demokrasi dapat mensejahterakan rakyat karena rakyat yang menentukan arah bangsa ini, tetapi kenyataannya rakyat Indonesia banyak yang menderita ditengah-tengah kayanya bangsa Indonesia dan penghargan dunia terhadap pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Semuanya serba bikin orang mengernyitkan dahi, bingung dengan semua yang terjadi, atau memang diri ini saja yang bingung karena dangkalnya pengetahuan tentang demokrasi ditambah dengan kuper (baca: kurang kumpul) dan gaptek (baca: gagap teknologi) yang ada dalam diri ini.

Saat diri ini mencoba melihat fenomena permasalahan lebih dalam lagi, heran dan tambah bingung semakin menghampiri dan kerasan (baca: betah) bersama diri ini. Nasib bangsa Indonesia ternyata banyak ditentukan orang – orang tertentu yang merasa dirinya memiliki bangsa Indonesia, lebih parah lagi mereka semua terlalu tunduk patuh terhadap intervensi dari bangsa asing. Katanya bangsa Indonesia ini miliknya rakyat, dengan demokrasi rakyat yang berwenang membuat kabijakan, apalagi apabila teringan dengan pelajaran yang didapat di bangku Sekolah Dasar (SD) yang mengatakan bahwa demokrasi itu pemerintahan dari, untuk, dan oleh rakyat. Yang salah itu ajaran dan pengetahuan yang diri ini dapatkan tentang demokrasi atau memang demokrasi itu seperti yang diriini lihat saat ini?.

Orang-orang yang merasa memiliki Indonesia tadi dengan tidak merasa bersalah sama sekali juga dengan tanpa beban menjual aset rakyat, ladang rakyat, sumber penghasilan rakyat kepada luar negeri. Akan makan apa rakyat Indonesia kalau ladangnya sudah dijual, sumber penghasilannya diserahkan pada orang lain, sekarang saja masalah pangan masih menghimpit bangsa Indonesia. Heran diri ini saat melihat salah satupasal dalam UUD 1945 yang mengamanahkan aset – aset negara yang berpengaruh terhadap hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Tidak ada kata – kata bangsa asing dalam pasal tersebut. Ada yang salah dengan bangsaku, tetapi yang salah dimana juga tidak tahu karena memang keinginan untuk mencarinya dan memperbaikinya tidak dimiliki para penguasa bangsa ini, bangsa Indonesia. Para penguasa hanya tunduk patuh, sendiko dawuh dumateng perintah nafsu pribadi dan keinginan luar negeri.

Itu semua yang saya ceritakan di atas adalah kejadian di luar diri, kejadian di dalam diriku sendiri sebenarnya tidak kalah rumitnya bila dibandingkan masalah diatas. Keinginan untuk menjadi orang yang lebih baik ternyata tidak semudah harapan, untuk menjadi orang baik itu ternyata sulit. Semua itu memang hanya pandanganku, tidak tahu dengan pandangan yang lainnya. Masih saja ada rasa sombong dan merasa paling bisa dalam diri ini. Semuanya memang sumber pembelajaran yang tidak kalah bermanfaat dari pelajaran yang diperoleh di sekolahan atau di kampus. Pelajaran kehiduapan dari universitas kehidupan

Dengan melihat fenomena tersebut di atas, terkadang diri ini justru berfikir apakah masih perlu institusi yangbernama sekolah. Buktinya apa yang aku dapatakan di SD dulu tidak sesuai dengan kenyataan. Pelajaran dari universitas kehidupan juga aku rasakan jauh lebih bermanfaat dibanding pelajaran yang diri ini dapatkan dari bangku sekolah atau universitas formal. Lebih jelas lagi, sekolah formal itu hanya institusi yang didalamnya sering dikumandangkan kebohongan yang meninabobokkan siswanya, yang tidak akan mengembangan siswanya kecuali siswanya tersebut dengan kemauan sendiri mau belajar dari segala fenomena diluar sekolah formal. Ini hanyalah sebuah pandangan dari orang biasa dengan kempuan yang biasa tentunya, jadi biarkanlah berlalu saat tidak sependapat dengan pendapat ini.

SEMUANYA TIDAK HARUS SESUAI DENGAN KEHENDAK KITA


SEMUANYA TIDAK HARUS SESUAI DENGAN KEHENDAK KITA
Semarang, 5 Juni 2008

Banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan dalam kehidupan ini. Kematian, sakit, perilaku orang lain dan apa yang dilakukan orang lain adalah sebagian contoh dari kejadian yang terjadi diluar kehendak kita. Hanya sedikit orang yang menginginkan untuk sakit, bahkan mungkin tidak ada tetapi saat sakit datang kepada menghampiri, tidak ada orang yang mampu untuk menolaknya. Perasaan dan perilaku orang lain, sekalipun itu sebuah perasaan dan perilaku terhadap kita, kita tidak pernah bisa mengendalikannya. Semuanya berada diluar kendali kita. Lebih dalam lagi, semuanya berjalan sesuai hukum alam yang telah ditentukan Allah swt.

Suatu hal yang percuma dan hanya membuang energi saat mengharapkan semuanya menjadi seperti yang kita inginkan. Belajar untuk menerima kehidupan seperti apa adanya kehidupan adalah lebih baik daripada terus mengharapkan semuanya menjadi seperti yang kita inginkan. Belajar untuk ridho dan ikhlas dengan ketentuan Allah swt lebih utama daripada terus mengeluh terhadap kehidupan, karena keluhan tidak akan merubah kenyataan. Mencoba untuk ikut mengalir mengikuti arah kehidupan tanpa harus terhanyut di dalamnya adalah lebih arif daripada terus menerus melawan arus kehidupan, tanpa bermaksud untuk mengatakan bahwa melawan arus kehidupan merupakan hal yang buruk. Semua yang ada dalam tulisan ini hanyalah sebuah pendapat dan pandangan yang didapat dari pengalaman hidup penulis, tidak lebih karena memang untuk berpijak pada suatu pengetahuan yang empiris, terlalu sedikit ilmu dan pengetahuan penulis untuk menjadi pijakan.

terkadang diri ini heran melihat perilaku sebagian sahabat yang merasa benar sendiri dan menganggap orang lain salah. Tetapi setelah dilihat lebih dalam lagi, ternyata diri ini tidak jauh berbeda dengan sahabat tadi, malah mungkin justru lebih primitif bila dibandingkan dengan beberapa sahabat yang merasa sok benar tadi. Primitif karena tidak dapat memahami kehidupan ini dan hanya menggunakan satu mata dalam melihat kehidupan. Terlalu kompleks dan luas permasalahan dalam hidup ini apabila hanya menggunakan satu mata untuk melihatnya. Terlalu sedikit ilmu dan lemampuan yang kita miliki untuk mengetahui segalanya. Terkadang kita harus berpelukan dengan yang lain, bertukar pikiran, sama – sama melihat satu obyek dari berbagai sudut agar kita dapat memahami secara keseluruhan. Tetapi sekali lagi, semua itu hanyalah sebuahpendapat dan pandangan. Sebuah teori, pandangan, atau sebuah wacana memang sangat mudah untuk dipelajari, mudah untuk dikemukakan tetapi sangat jauh dengan kenyataan apabila kita tidak dapat menempatkannya secara sejajar dan seimbang.

Terkadang kita menginginkan sesuatu, sangat menginginkannya dan berharap sesuatu itu dapat terwujud. Kita sangat ingin memiliki sesuatu tersebut kalau memang kita menginginkan untuk memilikinya. Sah-sah saja seseorang memiliki sebuah keinginan, harapan dan cita-cita. Hak setiap orang juga untuk menempatkan keinginan, harapan, dan cita–cita tersebut dimanapun ingin menempatkannya, meyakininya sebagai sebuah jalan hidup yang sempurna atau sebagai panduan untuk hidup sukses dan bahagia. Tetapi perlu diingat, manusia tidak dapat mewujudkan itu kalau tidak diizinkan oleh Sang Pemilik Kehidupan. Yang terpenting menurut diri ini adalah bagaimana kita menempatkan keinginan, harapan dan cita–cita tersebut dalam hidup kita secara seimbang. Berapa proporsi yang kita berikan kepada keinginan, harapan dan cita-cita dari seluruh energi yang kita miliki. Hidup terkadang penuh dengan kejutan, kita membutuhkan cadangan energi untuk menghadapinya. Bagaimana kita mampu untuk membagi energi yang kita miliki tersebut akan menentukan seberapa siap kita untuk menghadapi kehidupan ini.

Kembali lagi pada ide awal menulis ini semua bahwa semua yang telah tertulis di atas hanya sebuah pandangan dari seseorang yang sedang belajar dan berproses, tidak sempurna itu sudah pasti. Tetapi itulah pelajaran yang diberikan kehidupan kepada diri ini, atau lebih jelasnya itulah hasil penangkapan diri ini terhadap pelajaran yang diberikan oleh kehidupan. Semoga diri ini masih akan terus belajar, mampu untuk terus belajar dan dapat menjadi orang yang lebih baik lagi, orang yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain, orang yang beriman dan bertaqwa kedapa Allah swt yang memiliki kehidupan dan orang yang dapat menjadi seorang suami yang baik untuk seorang perempuan, teman hidup sejati yang selalu aku nantikan kehadirannya dan ayah yang baik bagi anak-anakku nanti untuk mengantarkan anak-anakku menjadi orang-orang yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan.

TERNYATA DIRI INI MASIH BODOH


TERNYATA DIRI INI MASIH BODOH
Semarang, 18 Mei 2008

Saat melihat pertandingan final Piala Uber di TV antara tim Indonesia dengan Tim China, berharap Indonesia dapat memenangkan pertandingan final itu dan menjadi juara. Setelah pentandingan selesai, dan ternyata tim Indonesia kalah dari tim China, diri ini sadar bahwa tim Indonesia tidaklah sekuat tim China. Perjuangan ternyata tidak cukup hanya dengan modal semangat dan dukungan dari masyarakat, tetapi lebih dalam lagi perjuangan lebih banyak tergantung dari individu para pemainnya. Perayaan yang dilakukan setelah semi final, seolah Indonesia telah menjadi juara beberapa hari sebelumnya ternyata tidak dapat diulangi pada final. Memang benar tim Piala Uber Indonesia telah melampaui target yang hanya lolos sampai semifinal, tetapi kekalahan di partai final seharusnya dapat dijadikan bahan pembelajaran bahwa tim piala Uber Indonesia tidaklah sekuat yang dibayangkan. Masih ada yang lebih kuat lagi.

Sama seperti tim piala Uber Indonesia yang masih perlu banyak belajar dan untuk menjadi yang terbaik tidak cukup hanya dengan motivasi dan dukungan dari orang – orang sekitar, diri ini sadar bahwa masih banyak yang harus dipelajari oleh diri ini untuk menjadi orang gedhe (baca: sukses). Belajar dari apapun, tidak memilih dan memilah tetapi menerima semua pelajaran yang diberikan universitas kehidupan tanpa protes sebelum menjalankan apa yang telah diajarkan universitas kehidupan.

Diri ini masih perlu belajar untuk meletakkan hati lebih rendah agar tampungan ilmu dapat terisi lebih banyak. Sekarang mungkin diri ini masih terlalu tinggi meletakkan hati sehingga ilmu yang didapat cuma sedikit. Ibarat sebuah gunung dan lautan, keduanya dapat menampung air, tetapi lautan sampai kapanpun menurut hukum alam akan lebih banyak menampung air daripada gunung. Beberapa gunung memang dipuncaknya ada sebuah danau atau tampungan air lainnya, tetapi tetap saja jumlah atau volume air didalamnya tetap lebih sedikit dibanding dengan air di lautan.

Kehidupan dengan contoh kehidupan alamnya ibarat sebuah papan tulis yang digunakan Tuhan untuk mengajari setiap makhluk-Nya. Diri ini sering menyebutnya dengan universitas kehidupan. Bagi sahabat yang kurang sepakat dengan istilah universitas kehidupan atau dengan istilah papan tulis Tuhan, silahkan membuat istilah sendiri yang menurut sahabat lebih tepat. Sebagian sahabat yang memilih dan serius untuk kuliah di universitas kehidupan, dengan seksama melihat dan memperhatikan papan tulis dan mendengarkan apa yang diterangkan alam, materi – materi pelajaran seperti lautan dan gunung tentunya sudah bukan merupakan hal yang asing lagi. Bahkan, sehelai daun yang jatuh pun akan dianggap sebagai sebuah pelajaran yang diberikan Tuhan melalui alamnya, berusaha mengambil makna darinya.

Semua daun yang jatuh semuanya adalah ke tanah, sebagian memang tertahan di dahan – dahan, pohon atau atap – atap rumah, tetapi jumlahnya tidaklah sebanyak yang jatuh di alam. Daun yang berada di tanha juga memberikan manfaat yang lebih besar, yaitu sebagai pupuk untuk menyuburkan tanah dan menjadi sumber makanan tumbuhan. Berbeda dengan daun yang ada di atap rumah, seringkali justru menjadi sumber masalah. Sebuah ilmu yang diletakkan pada tempatnya akan memberikan lebih banyak manfaat, tidak hanya untuk diri sendiri tetap juga untuk orang lain.

Kembali lagi pada bahasan awal, diri ini ternyata masih bodoh apabila dilihat dari masih banyaknya pelajaran yang diberikan alam yang belum diambil, dan cenderung diabaikan oleh diri ini. Masih banyak hal yang tidak diri ini ketahui dan masih banyak yang harus diri ini pelajari. Tidak hanya belajar yang sifatnya menjejali pikiran dengan pengetahuan baru, tetapi juga belajar mengendalikan hati, menempatkan hati, menempatkan ilmu, menjaga ucapan dan tidak membiarkan tindakan dan pikiran berbuat apapun hanya mengikuti permintaan nafsu.

Sebagian sahabat memang sudah mencapai tahapan belajar yang lebih tinggi dan diri ini masih dalam proses untuk menuju kesana. Diri ini masih dalam tahapan belajar bagaimana caranya belajar. Belajar dari apapun dan belajar memahami bahasa Tuhan melalui ciptaannya. Belajar untuk bersabar dan belajar bersyukur, karena memang dengan sabar semuanya dapat berjalan tanpa beban, dengan bersyukur kita kita akankaya, merasa cukup dengan apa yang dimiliki saat ini sehingga tidak ada keinginan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain. Diri ini juga masih belajar bagaimana caranya hidup ikhlas sehingga tidak ada kata – kata dan perasan mengeluh saat usaha, harapan, dan doa yang telah dilakukan dan dipanjatkan tidak terwujud sekarang, bahkan seandainya semua itu tidak pernah terwujud. Semuanya memang tidak mudah untuk dijalani, tetapi tidak mudah bukan berarti tidak bisa untuk dipelajari.

Saat merasa bahwa kita tidak dapat belajar, merasa berat untuk terus belajar karena tidak adanya dukungan dari orang – orang yang kita harapkan dukungannya, belajar dari tim piala Uber Indonesia ternyata dukungan bukanlah segalanya untuk mencapai keberhasilan. Motivasi saja tidak pernah cukup tanpa adanya suatu usaha, penyerahan diri secara ikhlas kepada Pemilik ilmu dan pemilik kesuksesan. Semuanya harus berjalan seimbang, sebagaimana telah diajarkan secara menarik oleh Tuhan melalui keseimbangan alamnya. Alam tidak pernah menuntut manusia untuk menyeimbangkannya, tetapi saat manusia tidak peduli dengan keseimbangan alam, dengan sendirinya alam, dengan caranya sendiri menyeimbangkan dirinya sendiri, salah satunya dengan berbagai bencana alam.

Tataplah belajar dan mengerjakan apa yang menjadi tanggungjawabmu walaupun tidak ada orang yang peduli denganmua, tidak ada yang memberikan dukungan. Tetaplah mengerjakan apa yang ingin kamu kerjakan, tetapi jangan pernah melanggar hukum alam walaupun terkadang harus menitikkan air mata. Tetaplah mengerjakan walaupun tidak ada sumbangan tenaga dariorang – orang disekitarmnu dan kamu harus mengumpulkan tenagamu sendiri dan tetaplah mengerjakan walaupun bukan yang pertama kali kamu harus menjalani tugas dan tanggungjawabmu beratmu sendirian. Semuanya hanya karena satu alasan, karena Tuhan tidak tidur.

SYUKUR


SYUKUR
Semarang, 26 Mei 2008

Syukur, sebuah kata yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk diterapkan. Beratnya beban hidup yang dirasakan terkadang membuat manusia jauh dari syukur. Melimpahnya harta kekayaaan juga seringkali membuat manusia enggan untuk mensyukuri nikmat kekayaan yang dimilikinya. Tetapi, ada sebagian sahabat yang walaupun hidup dengan pas - pasan tetapi mempunyai rasa syukur yang tinggi dengan apa yang dimilikinya.

Allah swt telah menjajikan akan menambah nikmat bagi orang-orang yang bersyukur. Syukur, lebih dari cukup untuk membuat orang menjadi kaya karen tidak menginginkan apa – apa lagi kecuali yang telah diberikan Allah swt kepadanya. Syukur, lebih dari cukup untuk membuat orang menjadi bahagia karena semua tamu yang datang, mulai dari kebahagiaan, kesenangan, kesedihan atau penderitaan diterima dengan lapang dada. Semuanya datang tidak lain hanyalah membawa pesan hikmah dari Tuhannya. Syukur, lebih dari cukup untuk membuat orang menjadi manusia yang sabar dan ikhlas dalam menjalani lika – liku kehidupan. Susahnya hidup dan beratnya beban kehidupan masih jauh lebih kecil apabila dibandingkan dengan besarnya nikmat dan anugerah yang telah dilimpahkan Allah swt.

Sebagian sahabat, karena tingginya rasa syukur atas segala nikmat dan kasih sayang yang telah dicurahkan Allah kepadanya, memilih zuhud sebagai jalan hidupnya. Orang – orang jenis ini memilih meletakkan dunia di tangan mereka dan akherat di hati mereka. Kecintaan terhadap Allah swt adalah segala – galanya dan dunia hanyalah sebuah sarana untuk semakin menumbuhkan rasa cinta kepada Allah swt. Memang hanya orang – orang tertentu yang dapat mencapai tataran orang seperti ini, karena memang jalan menuju kesana tidaklah semudah jalan ke diskotik atau tempat pelacuran. Mohon maaf apabila ada yang tersinggung, bukan bermaksud untuk menyinggung, apalagi menyakiti hati seseorang.

Diri ini memang masih jauh dari orang – orang tersebut. Ada saja godaan dalam kehidupan ini saat diri ini ingin melangkah menjadi orang – orang luar biasa seperti sebagian sahabat yang memilih zuhud sebagai jalan hidupnya. Nafsu dalam diri seringkali masih mengalahkan logika rasional dan beningnya suara hati. Semuanya memang membutuhkan proses untuk belajar dan sebuah komitmen untuk dapat menjadi orang – orang dengan derajat seperti yang telah dikemukakan di awal tulisan ini.

Saat diri ini mempunyai impian dan keinginan untuk menjadi orang bersyukur yang memilih jalan zuhud, bukan berarti diri ini ingin menjadi orang yang melepaskan dunia. Harapan untuk dapat merasakan kebahagiaan dunia, memiliki cinta dan hidup bersama orang yang dicintai dengan bahagia di dunia tetap ada, terutama harapan untuk menjadi insan yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain dan agama.

Mampu untuk memberikan manfaat bagi orang lain, manusia hidup idealnya memang seperti itu. Menyebarkan nilai kasih syang kepada sesama, hidup berdampingan dan saling membantu, bukannya bersaing saling mengalahkan dan menjatuhkan. Saat ingin menjadi manusia model tersebut, terkadang masih saja ada kepentingan dalam diri ini selalu berlawanan dengan keinginan mulia tersebut. Masih saja diri ini tunduk patuh pada nafsu dan ego yang bersemayam dalam diri. Diri ini memang bukan orang sempurna yang dapat menjalani semua dengan sempurna. Diri ini masih belajar bagaimana menjadi orang yang mendekati orang sempurna.

Pertentangan dan pertarungan dalam diri setiap manusia menjadi pemandangan yang setiap hari menghiasi kehidupan. Terkadang diri ini masih melakukan perbuatan yang bertentangan dengan keinginan hati. Ada perasaan berdosa dan bersalah saat telah melakukan perbuatan tersebut.

Ada keinginan diri ini untuk dapat menjadi orang yang tidak banyak bicara kecuali kebenaran dan kejujuran, tetapi masih saja sisi lain dalam diri ini selalu mengajak untuk bicara sesuatu yang tidak perlu, ingin mengetahui segala urusan orang lain dan menjadi orang sok bisa segalanya. Tidak jarang hal itu membuat orang lain gerah, tetapi diri ini juga tidak mampu untuk menghentikan kebiasaan tersebut.

Maafkan diri ini hatiku, maafkan perilaku diri ini jiwaku dan maafkan aku temen-temenku. Ampuni diri ini Tuhanku seandainya belum mampu untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah Engkau berikan. Diri ini memang masih lemah dan jauh dari harapan, diri ini hanya bisa bilang kalau diri ini telah berusaha, masih berusaha dan akan selalu berusaha untuk dapat menjadi orang yang lebih baik lagi dan menjadi orang yang mempu bersyukur atas apa yang ada dan dimiliki diri ini.

BERDOA DAN BERUSAHALAH


BERDOA DAN BERUSAHALAH
Semarang, 15 januari 2008

Kehidupan merupakan kumpulan masalah. Sebagian sahabat ada yang menyetujui dengan pernyataan tersebut, tetapi sebagian yang lain dengan tegas menolaknya. Semuanya memang bebas untuk berpendapat dalam negara yang berdemokrasi seperti Indonesia. Mengemukakan pandangan dan pendapat merupakan hak asasi. Begitu juga dengan penulis yang mempunyai pandangan dan pendapat tersendiri tentang kehidupan.

Kehidupan merupakan sebuah tugas, amanah dan pembelajaran. Layaknya sebuah tugas, semua harus dihadapi dan dikerjakan. Hidup adalah sebuah amanah sehingga setiap orang akan mempertanggungjawabkan kehidupannya di hadapan Tuhan. Hidup juga sebagai pembelajaran karena disetiap lika liku kehidupan, disitu terdapat materi pembelajaran dan ilmu yang dapat diambil oleh setiap orang yang mau mengambilnya. Sebagian orang yang mungkin sudah kenyang dengan belajar, atau sudah bosan dengan belajar ada yang tidak mau tahu atau justru malah tidak tahu, enggan untuk mengambil pelajaran darinya.

Kalau memang kehidupan dikatakan merupakan kumpulan masalah, tidak akan pernah habis masalah dalam kehidupan ini sampai kiamat menjemputnya. Semuanya adalah akhir dan awal, saling mengisi satu sama lain dan tidak akan pernah berhenti. Menghadapi atau menghindari masalah merupakan pilihan setiap orang. Bagi orang yang menganggapnya sebagai tugas untuk diselesaikan, biasanya memilih untuk menghadapi permasalahan tersebut sampai masalah tersebut dapat diatasi. Tetapi sebagian orang yang menganggap menghindar adalah hal terbaik, akan selalu menghindar dari masalah setiap kali bertemu dengannya. Yang perlu ditekankan, setiap pilihan akan meninggalkan bekas dan konsekuensi sendiri - sendiri. Sama seperti dengan konsekeuensi saat seseorang memilih untuk berbohong, biasanya orang – orang model ini akan melakukan kebohongan – kebohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan yang pertama. Berbeda tentunya dengan orang yang memilih untuk jujur daripada berbohong.

Berbicara tentang pembelajaran dari setiap kejadian dalam kehidupan, tentunya
akan berdekatan dengan makna apa dibalik setiap kejadian atau permasalahan yang muncul dalam kehidupan. Makna dibalik setiap permasalahan memang tidak dapat dilihat dengan indera penglihatan mata, atau dirasakan melalui rabaan tangan tetapi hikmah dibalik permasalahan selalu dapat dilihat dengan mata hati dan dapat dirasakan kehadirannya. Memang tidak semua orang mampu untuk melihat dan merasakan hikmah itu, karena memang tidak semua orang memiliki mata hati yang sehat dan mampu melihat. Tidak semua orang memiliki kelembutan perasaan untuk merasakan. Sama dengan indera mata, ada yang bisa melihat, ada yang sakit tetapi ada yang tidak bisa melihat.

Perlu ditekankan, saat suatu permasalahan muncul dan terasa begitu berat untuk dijalani, Allah swt tidak mungkin memberikan beban permasalahan kepada setiap manusia jauh diatas kemampuan yang dimiliki manusia untuk menghadapinya. Tidak semua orang dapat memahaminya memang, hanya sebagian orang yang mempunyai kedalaman perasaan, melihat apa yang tidak dilihat dan merasakan apa yang tidak dirasakan yang mampu untuk memahami dan mengerti dibalik setiap kejadian dalam kehidupan. Kehidupan memang tidak diisi orang – orang yang sama, tetapi keberagaman merupakan isi dari sebuah kehidupan.

Berdoa dan berusahalah saat merasakan begitu berat beban yang dirasakan. Saat semuanya terlihat begitu gelap dan titik cahaya belum juga kelihatan, berdoalah karena doa merupakan cahaya IIlahi yang dapat menerangi ditengah gelapnya lika liku kehidupan. Doa yang dipanjatkan terkadang memang tidak langsung dapat dirasakan dampaknya esok hari, tetapi teruslah berdoa. Allah swt mempunyai caranya sendiri untuk menjawab doa hamba – hambanya. Allah Maha Mengetahui doa mana yang akan dan harus segera dikabulkan dan mana yang harus ditunda. Dia Maha Mengetahui mana yang terbaik bagi hambanya yang berdoa. Iklhaskanlah dalam berdoa, walaupun puluhan, ratusan atau ribuan doa yang kamu panjatkan sepertinya tidak ada jawaban dari Allah swt tapi pengetahuanmu terlalu sedikit untuk menilai apakah doamu dibiarkan atau dipedulikan oleh Allah swt. Serahkan semua pada Allah swt karena Dia sumber dari segala sumber kehidupan. Saat kamu telah berdoa, bukan hakmu untuk menuntut orang lain berlaku seperti apa yang kamu lakukan seperti dalam doamu. Biarkanlah doamu terwujud dengan sendirinya, karena Allah swt punya caranya sendiri untuk menjawab doa-doamu.

Berusahalah karena dengan berusaha kamu akan mendapatkan hikmah dan pelajaran untuk bekal hidupmu nantinya. Ukurannya bukanlah seberapa banyak kamu telah melakukan usaha, tetapi kualitas dan keikhlasan usaha yang kamu lakukan. Setiap usaha memang tidak selamanya selalu berhasil, tetapi dari ketidakberhasilan itu kamu dapat belajar menjadi orang yang kuat dan menjadi orang yang lebih dewasa. Dengan permasalahan itu kamu belajar bagaimana menjadi orang yang tegar. Dengan berusaha kamu telah belajar bagaimana caranya bertanggungjawab terhadap apa yang telah dilakukan. Bukan hak kamu untuk mewujudkan setiap usaha yang telah kamu lakukan. Tugas kita hanyalah berusaha dan terus berusaha sampai kamu mengerti bahwa tidak semua usaha akan terwujud sebagaimana sebuah harapan tidak selamanya akan terwujud.